BAB I
HAKIKAT MANUSIA DAN PERKEMBANGANNYA
Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik
untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Potensi Kemanusiaan
merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia. Ibarat biji mangga bagaimana
pun wujudnya jika ditanam dengan baik, pasti menjadi pohon mangga dan bukannya
menjadi pohon jambu.
Tugas mendidik hanya mungkin dilakukan dengan benar dan tepat tujuan, jika
pendidik memiliki gambaran yang jelas tentang siapa manusia itu sebenarnya.
Manusia memiliki ciri khas yang secara prinsip berbeda dari hewan. Ciri khas
manusia yang membedakannya dari hewan terbentuk dari kumpulan terpadu
(integrated) dari apa yang disebut sifat hakikat manusia. Disebut sifat hakikat
manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia akan
membentuk peta tentang karakter manusia. Peta ini akan menjadi landasan serta
memberikan acuan baginya dalam bersikap, menyusun strategi, metode, dan teknik,
serta memilih pendekatan dan orientasi dalam merancang dan melaksanakan
komunikasi transaksi di dalam interaksi edukatif. Dengan kata lain ,dengan
menggunakan peta tersebut sebagai acuan seorang pendidik tidak mudah terkecoh
ke dalam bentuk–bentuk transaksi yang patologi dan berakibat merugikan subjek
terdidik.
Alasan kedua mengapa gambaran yang benar dan jelas tentang manusia itu perlu
dimiliki oleh pendidik adalah karena adanya perkembangan sains dan teknologi
yang sangat pesat dewasa ini, lebih-lebih pada masa mendatang. Memang banyak
manfaat yang dapat diraih bagi kehidupan manusia darinya. Namun, di sisi lain
tidak dapat dielakkan akan adanya dampak negatif, yang terkadang tanpa disadari
sangat merugikan bahkan mungkin mengancam keutuhan eksistensi manusia, seperti
ditemukannya bom kimia dan bakteri, video, dan DBS (Direct Broad-casting
System) rekayasa genetika dan lain-lain yang digunakan secara tidak bertanggung
jawab. Oleh karena itu, adalah sangat strategis jika pembahasan tentang hakikat
manusia ditempatkan pada bagian pertama dari seluruh pengkajian tentang
pendidikan, dengan harapan menjadi titik tolak bagi paparan selanjutnya.
Setelah mempelajari materi Bab I ini, Anda akan memahami karakter manusia yang
membedakan manusia dengan hewan, dimensi-dimensi hakikat manusia dan
pengembangan dimensi-dimensi tersebut. Selanjutnya memahami sosok manusia
Indonesia se-utuh nya dan manusia sebagai makhluk serba terhubung. Dengan
mengaji materi tersebut secara saksama, maka lebih khusus dan rinci Anda akan
dapat :
- Menuliskan sifat-
sifat hakikat manusia yang membedakannya dari hewan.
- Menjelaskan arti
masing-masing sifat hakikat manusia tersebut.
- Menjelaskan hubungan
antara sifat hakikat manusia dengan kebutuhan akan pendidikan.
- Menuliskan empat
macam dimensi hakikat manusia.
- Mendeskripsikan ciri
utama dari masing-masing dimensi hakikat manusia.
- Menjelaskan implikasi
pendidikan dari masing–masing dimensi hakikat manusia.
- Membuat deskripsi
tentang sosok manusia Indonesia se-utuh nya menurut GBHN.
- Menjelaskan manusia
sebagai makhluk serba terhubung.
Untuk
mencapai tujuan tersebut di bawah ini akan dikemukakan materi yang meliputi :
arti dari wujud sifat hakikat manusia, dimensi-dimensi-nya, pengembangan
dimensi tersebut, dan sosok manusia Indonesia se-utuh nya.
A. Sifat Hakikat ManusiaSifat hakikat manusia menjadi bidang kajian
filsafat, khususnya filsafat antropologi. Hal ini menjadi keharusan oleh karena
pendidikan bukanlah sekadar soal praktik melainkan praktik yang berlandas dan
bertujuan. Sedangkan landasan dan tujuan pendidikan itu sendiri sifatnya
normatif. Bersifat filosofis karena untuk mendapatkan landasan yang kukuh
diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar, sistematis, dan universal
tentang ciri hakiki manusia. Bersifat normatif karena pendidikan mempunyai
tugas untuk menumbuh kembangkan sifat hakikat manusia tersebut sebagai sesuatu
yang bernilai luhur, dan hal itu menjadi keharusan. Uraian selanjutnya akan membahas
pengertian sifat hakikat manusia dan wujud sifat hakikat manusia.
- Pengertian
Sifat Hakikat Manusia
Sifat
hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karakter, yang secara prinsip (jadi
bukan hanya gradual) membedakan manusia dari hewan. Meski pun antara manusia
dengan hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologis nya.
Bentuknya (misalnya orang hutan), bertulang belakang seperti manusia, berjalan
tegak dengan menggunakan kedua kakinya, melahirkan dan menyusui anaknya,
pemakan segala, dan adanya persamaan metabolisma dengan manusia.
2. Wujud Sifat Hakikat Manusia
Pada bagian ini akan dipaparkan wujud sifat hakikat manusia (yang tidak
dimiliki oleh hewan) yang dikemukakan oleh paham eksistensialisme, dengan
maksud menjadi masukan dalam membenahi konsep pendidikan yaitu :
- Kemampuan menyadari
diri;
- Kemampuan
bereksistensi;
- Pemilikan kata hati;
- Moral;
- Kemampuan bertanggung
jawab;
- Rasa kebebasan
(kemerdekaan);
- Kesediaan
melaksanakan kewajiban dan menyadari hak;
- Kemampuan menghayati
kebahagiaan.
B.
Dimensi- Dimensi Hakikat Manusia serta Potensi, Keunggulan,dan Dinamika nya
Pada butir A telah diuraikan sifat hakikat manusia. Pada bagian ini sifat
hakikat tersebut akan dibahas lagi dimensi-dimensi nya atau ditilik dari sisi
lain. Ada 4 macam dimensi yang akan dibahas, yaitu :
- Dimensi
Individualistis
- Dimensi Sosial
- Dimensi Kesusilaan
- Dimensi Keberagamaan
1.Dimensi Individual
Lysen mengartikan individu sebagai “orang-seorang”, sesuatu yang merupakan
suatu keutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi (in devide).
Selanjutnya individu diartikan sebagai pribadi. (Lysen, Individu dan
Masyarakat: 4.) Setiap anak manusia yang dilahirkan telah dikaruniai potensi
untuk menjadi
berbeda dari yang lain, atau menjadi (seperti) dirinya sendiri.
2. Dimensi Sosial
Setiap bayi yang lahir dikaruniai potensi sosialistis. Demikian kata M.J
Langeveld (M.J.Langeveld,1955:54). Pernyataan tersebut diartikan bahwa setiap
anak dikaruniai benih kemungkinan untuk bergaul. Artinya setiap orang dapat
saling komunikasi yang pada hakikatnya di dalamnya terkandung unsur saling
memberi dan menerima.
3. Dimensi Kesusilaan
Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi
. Akan tetapi, di dalam kehidupan bermasyarakat orang tidak cukup hanya berbuat
yang pantas jika di dalam yang pantas atau sopan itu misalnya terkandung
kejahatan terselubung. Karena itu maka pengertian susila berkembang sehingga
memiliki perluasan arti menjadi kebaikan yang lebih.
4. Dimensi Keberagamaan
Pada hakikatnya manusia makhluk religius. Sejak dahulu kala, sebelum mengenal
agama mereka telah percaya bahwa di luar alam yang dapat dijangkau dengan
perantaraan alat indra nya, diyakini akan adanya kekuatan supranatural yang
menguasai hidup alam semesta ini. Untuk dapat berkomunikasi dan mendekatkan
diri kepada kekuatan tersebut diciptakan lah mitos-mitos. Misalnya, untuk
meminta sesuatu dari kekuatan-kekuatan tersebut dilakukan bermacam-macam
upacara, menyediakan persembahan-persembahan dan memberikan korban-korban.
Sikap dan kebiasaan yang membudaya pada nenek moyang kita seperti itu dipandang
sebagai embrio dari kehidupan manusia dalam beragama.
C . Pengembangan Dimensi Hakikat Manusia
Manusia lahir telah dikaruniai dimensi hakikat manusia tetapi masih dalam wujud
potensi, belum ter-aktualisasi menjadi wujud kenyataan atau “aktualisasi”. Dari
kondisi “potensi” menjadi wujud aktualisasi terdapat rentang proses yang
mengundang pendidikan untuk berperan dalam memberikan jasanya. Seseorang yang
dilahirkan dengan bakat seni misalnya, memerlukan pendidikan untuk diproses
menjadi seniman terkenal. Setiap manusia lahir dikaruniai “naluri” yaitu
dorongan-dorongan yang alami (dorongan makan, seks, mempertahankan diri, dan
lain-lain). Jika seandainya manusia dapat hidup hanya dengan naluri maka tidak
bedanya ia dengan hewan. Hanya melalui pendidikan status hewani itu dapat
diubah ke arah status manusiawi. Meski pun pendidikan itu pada dasarnya baik
tetapi dalam pelaksanaannya mungkin saja bisa terjadi kesalahan –kesalahan yang
lazimnya disebut salah didik. Hal demikian bisa terjadi karena pendidik itu
adalah manusia biasa, yang tidak luput dari kelemahan-kelemahan. Sehubungan
dengan itu ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu :
- Pengembangan yang
utuh, dan
- Pengembangan yang
tidak utuh
1. Pengembangan yang Utuh
Tingkat keutuhan perkembangan dimensi hakikat manusia ditentukan oleh dua
faktor, yaitu kualitas dimensi hakikat manusia itu sendiri secara potensial dan
kualitas pendidikan yang disediakan untuk memberikan pelayanan atas perkembangannya.
2. Pengembangan yang Tidak Utuh
Pengembangan yang tidak utuh terhadap dimensi hakikat manusia akan terjadi di
dalam proses pengembangan ada unsur dimensi hakikat manusia yang terabaikan
untuk ditangani, misalnya dimensi kesusilaan didominasi oleh pengembangan
dimensi individualis atau pun domain afektif didominasi oleh pengembangan
domain kognitif. Demikian pula secara vertikal ada domain tingkah laku yang
terabaikan penanganan nya.
D. Sosok Manusia Indonesia Se utuh nya
Pengertian manusia utuh sudah digambarkan pada butir C.1. Sosok manusia
Indonesia se utuh nya telah dirumuskan di dalam GBHN mengenai arah pembangunan
jangka panjang. Dinyatakan bahwa pembangunan nasional dilaksanakan di dalam
rangka pembangunan manusia Indonesia se utuh nya dan pembangunan seluruh
masyarakat Indonesia. Hal ini berarti bahwa pembangunan itu tidak hanya
mengejar kemajuan lahiriah, seperti pangan, sandang, perumahan, kesehatan, atau
pun kepuasan batiniah seperti pendidikan, rasa aman, bebas mengeluarkan
pendapat yang bertanggung jawab, atau rasa keadilan, melainkan keselarasan,
keserasian, dan keseimbangan antara keduanya. Selanjutnya juga diartikan
sebagai keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya,
keserasian hubungan antara bangsa-bangsa, dan juga keselarasan antara cita-cita
hidup di dunia dengan kebahagiaan di akhirat.
BAB II
PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN
A. Pengertian Pendidikan
1. Batasan tentang Pendidikan
Pendidikan seperti sifat sasarannya yaitu manusia, mengandung banyak aspek dan
sifatnya sangat kompleks. Karena sifatnya yang kompleks itu, maka tidak sebuah
batasan pun yang cukup memadai untuk menjelaskan arti pendidikan secara
lengkap. Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam,
dan kandungannya berbeda yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut mungkin
karena orientasi nya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan,
atau karena falsafah yang melandasi nya.
- Pendidikan sebagai
Proses Transformasi Budaya
- Pendidikan sebagai
Proses Pembentukan Pribadi
- Pendidikan sebagai
Proses Penyiapan Warga Negara
- Pendidikan sebagai
Penyiapan Tenaga Kerja
- Definisi Pendidikan
Menurut GBHN
2. Tujuan
dan Proses Pendidikan
a. Tujuan Pendidikan
Tujuan Pendidikan akan menentukan kearah mana anak didik akan dibawa.
Disamping itu pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta
meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia indonesia. Tujuan pendidikan
secara umum dapat dilihat pada:
- Undang-undang No2
Tahun 1985 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia
yang se utuh nya yaitu yang beriman dan dan bertakwa kepada tuhan yang
maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta
rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.
- Tujuan Pendidikan
nasional menurut Ketetapan MPR NO II/MPR/1993 yaitu Meningkatkan
kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian,
mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, memiliki
kinerja profesional serta sehat jasmani dan rohani.
Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal
rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan
sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para
pahlawan, serta berorientasi masa depan.
- TAP MPR No
4/MPR/1975, tujuan pendidikan adalah membangun di bidang pendidikan
didasarkan atas falsafah negara pancasila dan diarahkan untuk membentuk
manusia-manusia pembangun yang berpancasila dan untuk membentuk manusia
yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan
yang dapat mengembangkan kreatif dan tanggung jawab dapat menyuburkan
sikap demokratis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan
yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan
mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam UUD
1945, Bab II (Pasal 2, 3, dan 4)
b. Proses
Pendidikan
standar proses pendidikan dapat diartikan sebagai suatu bentuk teknis
yang merupakan acuan atau kriteria yang dibuat secara berencana atau di desain
dalam pelaksanaan pembelajaran
Dasar hukum yang mengatur standar proses pendidikan terdapat dalam Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang
Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Standar proses
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran
pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
Komponen-komponen dalam Standar Proses Pendidikan:
- Perencanaan Proses
Pembelajaran
Perencanaan
proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar
(KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi
pembelajaran, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.
- Pelaksanaan
Proses Pembelajaran
Berikut
ini syarat-syarat terlaksananya suatu proses pembelajaran.
- Rombongan belajar
Jumlah
maksimal peserta didik setiap rombongan belajar adalah:
1) SD/MI : 28 peserta didik
2) SMP/MT : 32 peserta didik
3) SMA/MA : 32 peserta didik
4) SMK/MAK : 32 peserta didik.
- Beban kerja minimal
guru
1)
beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran,
melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih
peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan;
2) beban kerja guru sebagaimana dimaksud pada 1)
di atas adalah sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dalam 1
(satu) minggu.
- Buku teks pelajaran
1)
buku teks pelajaran yang akan digunakan oleh sekolah/madrasah dipilih melalui
rapat guru dengan pertimbangan komite sekolah/madrasah dari buku buku teks
pelajaran yang ditetapkan oleh Menteri;
2) rasio buku teks pelajaran untuk peserta didik
adalah 1 : 1 per mata pelajaran;
3) selain buku teks pelajaran, guru menggunakan
buku panduan guru, buku pengayaan, buku referensi dan sumber belajar lainnya;
4) guru membiasakan peserta didik menggunakan
buku-buku dan sumber belajar lain yang ada di perpustakaan sekolah/madrasah.
- Pengelolaan kelas
3.
Penilaian Hasil Pembelajaran
Penilaian dilakukan oleh pendidik terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur
tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan
penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.
Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematis, dan ter-program dengan
menggunakan tes dalam bentuk tertulis atau lisan, dan non tes dalam bentuk
pengamatan kerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek
dan/atau produk, porto folio, dan penilaian diri. Penilaian hasil pembelajaran
menggunakan Standar Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata
Pelajaran.
4. Pengawasan Proses Pembelajaran
Pemantauan
- Pemantauan proses
pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian
hasil pembelajaran.
- Pemantauan dilakukan
dengan cara diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman,
wawancara, dan dokumentasi.
- Kegiatan pemantauan
dilaksanakan oleh penyelenggara program, penilik, dan/atau dinas
kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.
Supervisi
- Supervisi proses
pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian
hasil pembelajaran.
- Supervisi
pembelajaran diselenggarakan dengan cara pemberian contoh, diskusi,
pelatihan, dan konsultasi.
- Kegiatan supervisi
dilakukan oleh penyelenggara program, penilik, dan/atau dinas
kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.
Evaluasi
- Evaluasi proses
pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara
keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan
proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran.
- Evaluasi proses
pembelajaran diselenggarakan dengan cara:
1)
membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan pendidik dengan standar
proses pendidikan kesetaraan,
2) mengidentifikasi kinerja pendidik dalam proses
pembelajaran sesuai dengan kompetensi peserta didik.
- Evaluasi proses pembelajaran
memusatkan pada keseluruhan kinerja pendidik dalam proses pembelajaran.
- Kegiatan evaluasi
dilakukan oleh penyelenggara program, penilik, dan/atau dinas
kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.
Pelaporan
Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran
dilaporkan kepada pemangku kepentingan.
Tindak lanjut
- Penguatan dan
penghargaan diberikan kepada pendidik yang telah memenuhi standar.
- Teguran yang bersifat
mendidik diberikan kepada pendidik yang belum memenuhi standar.
- Pendidik diberi
kesempatan untuk mengikuti pelatihan/penataran lebih lanjut.
3. Konsep
Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH)
4. Kemandirian dalam Belajar
a. Arti dan Prinsip yang melandasi
b. Alasan yang Menopang
Serempak dengan perkembangan iptek ada beberapa alasan yang memperkuat konsep
kemandirian dalam belajar. Conny Semiawan, dan kawan-kawan (Conny S. 1988:
14-16) mengemukakan alasan sebagai berikut:
1) Perkembangan iptek berlangsung semakin pesat sehingga tidak mungkin lagi
para pendidik (khususnya guru) mengajarkan semua konsep dan fakta kepada
peserta didik.
2) Penemuan iptek tidak mutlak benar 100%,sifatnya relatif. Semua teori mungkin
tertolak dan gugur setelah ditemukan data baru yang sanggup membuktikan
kekeliruan teori tersebut. Sebagai akibatnya muncullah lagi teori baru pada
dasarnya kebenarannya juga bersifat relatif.
Konsep dasar kemanusiaan dalam belajar sebagaimana dikemukakan itu membawa
implikasi kepada konsep pembelajaran, peranan pendidik khususnya guru, dan
peranan peserta didik.
B. Unsur – Unsur Pendidikan
Proses pendidikan melibatkan banyak hal,yaitu :
1. Subjek yang dibimbing (peserta didik)
2. Orang yang membimbing (pendidik)
3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
5. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)
6. Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)
7. Tempat di mana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).
C. Pendidikan sebagai Sistem
1. Pengertian Sistem
a. Sistem adalah suatu kebulatan keseluruhan yang kompleks atau
reorganisasi; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang
membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh. (Tatang M.
Amirin, 1992:10.)
2. Komponen dan Saling Hubungan Antara Komponen dalam Sistem pendidikan
- Sistem baru merupakan
masukan mentah (raw input) yang akan diproses menjadi tamatan (out put)
- Guru dan tenaga
nonguru, administrasi sekolah,kurikulum,anggaran pendidikan,prasarana dan
sarana merupakan masukan instrumental (instrumental input) yang
memungkinkan dilaksanakanya pemrosesan masukan mentah menjadi tamatan.
- Corak budaya dan
kondisi ekonomi masyarakat sekitar,kependudukan,politik dan keamanan
Negara merupakan factor lingkungan atau masukan lingkungan (environmental
input) yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap
berperanya masukan instrumental dalam pemrosesan masukan mentah.
3.Hubungan Sistem Pendidikan dengan Sistem lain dan Perubahan Kedudukan dari
Sistem
Di bagian terdahulu digambarkan faktor ekonomi,politik,social,budaya sebagai
komponen masukan lingkungan (environmental input) dari system pendidikan.
4. Pemecahan Masalah Pendidikan Secara Sistematik
- Cara Memandang Sistem
- Masalah Berjenjang
- Analisis Sistem dalam
Pendidikan
- Saling Hubungan Antar
komponen
- Hubungan Sistem
dengan Suprasistem.
- Proses dan Tujuan
Sistem Pendidikan
5. Keterkaitan Antara Pengajaran dan Pendidikan
Pengajaran (Instruction)
- Lebih menekankan pada
penguasaan wawasan dan
pengetahuan tentang bidang
/program
tertentu seperti pertanian,
kesehatan,dan lain-lain.
- Makan waktu relative pendek.
- Metode lebih bersifat rasional, teknis praktis.
Pendidikan (Education)
- Lebih menekankan pada pembentukan manusianya (penanaman sikap dan
nilai-nilai).
- Makan waktu relatif panjang.
- Metode lebih bersifat psikologis dan pendekatan manusiawi.
6. Pendidikan Prajabatan (Preservice Education) dan Pendidikan dalam Jabatan
(Inservice Education) sebagai Sebuah Sistem
7. Pendidikan Formal, Non-Formal, dan Informal sebagai Sebuah Sistem
Pendidikan formal (PF) yang sering disebut pendidikan persekolahan,berupa
rangkaian jenjang pendidikan yang telah baku.Bisa juga disebut pendidikan
prasekolah,dasar (Pra – Elementary School).
BAB III
LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN
SERTA PENERAPANNYA
A. Landasan Pendidikan
Pendidikan adalah sesuatu yang universal dan berlangsung terus tak terputus
dari generasi ke generasi di mana pun di dunia ini. Upaya memanusiakan manusia
melalui pendidikan itu diselenggarakan sesuai dengan pandangan hidup dan dalam
latar sosial-kebudayaan setiap masyrakat tertentu. Pendidikan sebagai disiplin
ilmu tersendiri dan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistematis selalu
bertolak dari sejumlah landasan. Landasan tersebut antara lain:
1. Landasan Filosofis
Landasan filosofis berkaitan dengan makna dan hakikat pendidikan yang berusaha
menelaah masalah pokok seperti:
- Apakah pendidikan
- Mengapa pendidikan
itu perlu
- Kapan dan di mana
pendidikan dilaksanakan.
- Apakah tujuan
pendidikan?
Falsafah
atau philosophy bersumber dari bahasa yunani, philein berarti mencintai dan
suphos berarti arif atau bijaksana. Falsafah menelaah sesuatu secara radikal,
menyeluruh dan konseptual. Hasilnya berupa konsep-konsep tentang kehidupan di
dunia. Falsafah bersumber pada:
- agama dan etika yang
bertumpu pada keyakinan
- ilmu pengetahuan yang
berdasarkan pada penalaran.
istilah
falsafah dapat digunakan dalam dua pendekatan
- filsafat sebagai
kelanjutan berpikir ilmiah
- filsafat sebagai
kajian formal
selanjutnya
dalam perkembangan filsafat pendidikan tidak hanya menganut satu aliran
filsafat tersebut di atas. tetapi mengikuti beberapa aliran, pada akhirnya ada
4 aliran filsafat terbesar yang memengaruhi pemikiran dan penyelenggaraan
pendidikan, yaitu:
ESENSIALISME
dalam
dunia pendidikan aliran esensialisme di lapangan menggunakan dua filsafat
idealisme dan realisme, hanya dipasang tidak lebur. dengan berpegang pada yang
esensi inti atau pokok, esensialisme menentukan bahwa:
- mata pelajaran
sejarah menggunakan dasar idealisme, sedangkan ilmu pengetahuan lain
menggunakan realisme.
- memisahkan mata
pelajaran teoritis yang disebut liberal arts, dan mata pelajaran praktik
disebut practical arts.
- kurikulum SD
berintikan 3 ketrampilan dasar (basic skill) yakni the 3's terdiri dari
reading, writting, dan arithmatic.
2. Landasan Sosiologis
Pengertian tentang Landasan Sosiologis
Kegiatan pendidikan merupakan proses interaksi antara dua individu, bahkan dua
generasi, yang memungkinkan generasi muda memperkembangkan diri.
3. Landasan Kultural
a. Pengertian tentang Landasan Kultural
Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi dan karya itu
akan selalu terkait dengan pendidikan, utamanya belajar.
Kebudayaan dalam arti luas tersebut dapat berwujud :
(1) Ideal seperti ide, gagasan, nilai, dan sebagainya.
(2) Kelakuan berpola dari manusia dalam masyrakat, dan
(3) Fisik yakni benda hasil karya manusia.
4. Landasan Psikologis
a. Pengertian tentang Landasan Psikologis
Pemahaman peserta didik utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan,
merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil
kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapanya dalam bidang
pendidikan, umpama pengetahuan tentang aspek-aspek pribadi , urutan, dan ciri –
cirri pertumbuhan setiap aspek, dan konsep tentang cara-cara paling tepat untuk
mengembangkannya.
5. Landasan Ilmiah dan Teknologis
a. Pengertian tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Terdapat beberapa istilah yang perlu dikaji agar jelas makna dan kedudukan
masing-masing, yakni pengetahuan, ilmu pengetahuan, teknologi, serta istilah
lain yang terkait dengannya.
B. Asas- Asas Pokok Pendidikan
1. Asas Tut Wuri Handayani
2. Asas Belajar Sepanjang Hayat
3. Asas Kemandirian dalam Belajar
BAB IV
PERKIRAAN DAN ANTISIPASI
TERHADAP MASYRAKAT MASA DEPAN
A.Perkiraan Masyarakat Masa Depan
Dalam kehidupan suatu bangsa pendidikan mempunyai peranan yang amat penting untuk
menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa yang bersangkutan.
Perubahan yang cepat tersebut mempunyai beberapa karakteristik umum yang dapat
dijadikan petunjuk sebagai ciri masyarakat di masa depan. Beberapa diantaranya
yang dibahas selanjutnya adalah
1. Kecenderungan globalisasi yang makin kuat
2. Perkembangan iptek yang makin cepat.
3. Perkembangan arus informasi yang semakin padat dan cepat.
4. Kebutuhan/tuntutan peningkatan layanan profesional dalam berbagai segi
kehidupan manusia. Keseluruhan hal itu telah mulai tampak perananya di masa
depan.
B.Upaya Pendidikan dalam Mengantisipasi Masa Depan
1. Tuntutan bagi Manusia Masa Depan (Manusia Modern)
2.Upaya Mengantisipasi Masa Depan
BAB V
PENGERTIAN,FUNGSI,DAN JENIS LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai pihak,
khususnya keluarga, sekolah, dan masyrakat sebagai lingkungan pendidikan yang
dikenal sebagai tripusat pendidikan. Fungsi dan peranan tripusat pendidikan
itu, baik sendiri –sendiri maupun bersama-sama, merupakan faktor penting dalam
mencapai tujuan pendidikan yakni membangun manusia Indonesia seutuhnya serta
menyiapkan sumber daya manusia pembangunan yang bermutu.
BAB VI
ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN
Berkaitan
dengan kemampuan dan kekuatan pendidikan, dikenal beberapa aliran.
- aliran Nativisme yang
beranggapan bahwa pengaruh pada anak didik tidak berdaya karena anak
dilahirkan dengan sejumlah kemampuan da kepribadian bawaan yang tidak bisa
diubah lewat pendidikan. tokoh yang terkenal adalah Schopenhouer. jadi
pendidikan di sini tidak perlu.
- aliran Empirisme
anggapan yang menyatakan bahwa anak dilahirkan sebagai kertas putih (teori
tabula rasa) maka pendidikan sangat berkuasa. anak bisa dicetak menjadi
apa saja tergantung pendidikan. tokoh yang terkenal adalah John Locke.
- aliran Konvergensi,
William Stern berpendapat bahwa anak menjadi dewasa sebagai hasil
perpaduan antara bawaan, pendidikan, dan lingkungan.
- aliran Romantik, JJ
Rousseou mengatakan bahwa pendidikan harus mengembalikan ke alam. jadi
pendidikan yang tepat adalah pendidikan alam. pendidikan juga harus
berpihak pada anak karena buka orang dewasa yang berbentuk kecil. aliran
romantik disebut pula aliran naturalisme.
Pemikiran tentang pendidikan
sejak dulu,kini,dan masa yang akan dating terus berkembang.Dari sisi lain, di
Indonesia juga muncul gagasan-gagasan tentang pendidikan, yang dapat
dikategorikan sebagai aliran pendidikan, yakni Taman Siswa dan INS Kayu Tanam.
BAB VII
PERMASALAHAN PENDIDIKAN
Masalah yang dihadapi dunia
pendidikan itu demikian luas, pertam karena sifat sasaranya yaitu manusia
sebagai makhluk misteri, kedua karena usaha pendidikan harus mengantisipasi ke
hari depan yang tidak segenap seginya terjangkau oleh kemampuan daya ramal
manusia.
Landasan yuridis pemerataan pendidikan tersebut penting sekali artinya, sebagai
landasan pelaksanaan upaya pemerataan pendidikan guna mengejar ketinggalan kita
sebagai akibat penjajahan.
Pada jenjang pendidikan menengah dan terutama pada jenjang pendidikan tinggi,
kebijakan pemerataan didasarkan atas pertimbangan kualitatif dan relevansi,
yaitu minat dan kemampuan anak, keperlan tenaga kerja, dan keperluan
pengembangan masyarakat, kebudayaan,ilmu, dan teknologi.
BAB VIII
SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
A. Kelembagaan, Program, dan Pengelolaan Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar dapat
berperan aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan dating.
a.Jalur Pendidikan
Penyelenggaraan Sisdiknas dilaksanakan melalui dua jalur yaitu, jalur
pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah yang sering disingkat
dengan PLS.
1) Jalur Pendidikan Sekolah
2) Jalur Pendidikan Luar Sekolah
c. Jenjang Pendidikan
Jenjang pendidikan adalah suatu tahap dalam pendidikan berkelanjutan yang
ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik serta keluasan dan
kedalaman bahan pengajaran (UU RI No. 2 Tahun 1989 Bab I, Pasal 1 Ayat 5).
1) Jenjang Pendidikan Dasar
2) Jenjang Pendidikan Menengah
Universitas ialah perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang
menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau profesional dalam sejumlah
disiplin ilmu tertentu.
Muatan local adalah Lampiran Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
tersebut dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan muatan local adalah program
pendidikan yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam,
lingkungan sosial, dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah.
Lingkungan alam meliputi :
1) Daerah pantai.
2) Daratan rendah.
3) Daratan tinggi.
4) Pegununggan/gunung.
Pola Kehidupan yaitu :
1) Perikanan darat dan laut.
2) Peternakan.
3) Persawahan.
4) Perladangan.
5) Perdagangan, termasuk di dalamnya jasa.
6) Industri kecil, termasuk didalamnya industri rumah tangga.
7) Industri besar.
8) Pariwisata.
B. Upaya Pembangunan Pendidikan Nasional
1. Jenis Upaya Pembaruan Pendidikan
a. Pembaruan Landasan Yuridis
b. Pembaruan Kurikulum
c. Pembaruan Pola Masa Studi
d. Pembaruan Tenaga Kependidikan
2. Dasar dan Aspek Legal Pembangunan Pendidikan Nasional
BAB IX
PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN
A.Esensi Pendidikan dan Pembangunan Serta Titik Temunya
B. Sumbangan Pendidikan pada Pembangunan
1. Segi Sasaran Pendidikan
2.Segi Lingkungan Pendidikan
1) Lingkungan Keluarga
2) Lingkungan Sekolah
3) Lingkungan Masyarakat
3. Segi jenjang Pendidikan
4. Segi Pembidangan Kerja Atau Sektor Kehidupan
C. Pembangunan Sistem Pendidikan Nasional
Pada bagian ini akan dikemukakan dua hal , yaitu :
1. Mengapa sistem pendidikan harus dibangun
2. Wujud pembangunan sistem pendidikan
A) Hubungan Antar Aspek-aspek
B) Aspek Filosofis Keilmuan
M.J Langeveld menyatakan bahwa mempelajari ilmu mendidik berarti mengubah diri
sendiri. Artinya dengan mempelajari ilmu mendidik seseorang dapat membenahi
tindakan- tindakannya sehingga terhindar dari kesalahan- kesalahan mendidik.
Konsep humanism degan pasang surutnya serta pergesaran- pergeseran tekanan dari
zaman kuno, abad tengah, zaman Renaissanse hingga dewasa ini memberikan
sumbangan yang sangat berarti kepada pendidikan dalam membangun dirinya. Dewasa
ini humanis me meniupkan angin segar terhadap pendidikan yang bersasaran
peserta didik sebagai pribadi yang otonom. Paham humanisme member sumbangan
terhadap bagaimana seyogianya memandang peserta didik secara benar dan sehat.
C) Aspek Yuridis
a) Isi UU RI No.2 Tahun 1989
b) Sifat UU RI No. 2 Tahun 1989 lebih fleksibel .dp. UU No. 4 /1950 dan UU No.
22/61.
D) Aspek Struktur
E) Aspek Kurikulum
Rangkuman
Pendidikan mempunyai misi pembangunan. Mula- mula membangun manusianya,
selanjutnya manusia yang sudah terbentuk oleh pendidikan menjadi sumber daya
pembangunan.
Pembangunan yang dimaksud baik yang bersasaran lingkungan fisik maupun yang
bersasaran lingkungan sosial yaitu diri manusia itu sendiri.